Perangkat lunak

Imaji Indonesia yang Terluka

Aug 20, 2026 IDOPRESS

Anda bisa menjadi kolumnis !

Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Daftar di sini

Kirim artikel

Editor Sandro Gatra

BENEDICT Anderson, seorang Indonesianis dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, menerbitkan buku Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1983).

Thesisnya sederhana: sebuah bangsa -seperti Indonesia- adalah imaji atau gambaran bersama. Imaji itu didasarkan pada realitas keragaman, dalam narasi kebersamaan.

Narasi inilah yang menjelma menjadi ideologi bangsa. Sebagai ideologi, narasi tidak berhenti begitu saja. Ada cita-cita di dalamnya. Keragaman tetap jadi pijakan, meski dalam cita ada kesatuan.

Setelah delapan puluh satu tahun menjadi negara, imaji dan mimpi bersama yang dibangun, yaitu Indonesia yang sejahtera, tampak belum berbentuk.

Sebagian orang malah mulai mempertanyakan imaji itu, karena begitu banyaknya luka-luka dalam kehidupan bersama.

Luka Tampak Luar

Ditemukannya banyak uang dan emas di rumah mantan Jampidsus Febrie Adriansyah beberapa waktu lalu, seperti membuka luka yang dalam bagi kebanyakan rakyat.

Skandal nasional itu tampak seperti terbukanya kotak pandora korupsi dalam dunia hukum dan lingkungan, khususnya dalam ranah perkebunan dan pertambangan.

Makin tidak jelasnya kasus itu, menambah luka rakyat. Hukum tampak hanya sebagai topangan pada segelintir orang, bukan demi bangsa sebagai kesatuan.

Korupsi ekologis itu (dan banyak lain lagi) adalah luka yang lebih dirasakan masyarakat adat. Atas nama pembangunan nasional, tanah dan hutan mereka diambil untuk dijadikan lahan proyek strategis nasional, entah itu perkebunan maupun pertambangan.

Dalam catatan AMAN (Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara), pada tahun 2025 terjadi 135 kasus perampasan tanah adat dari 109 komunitas.

Luka terjadi karena eksistensi hidup mereka terancam. Bagi mereka, tanah, air, dan hutan bukan sekadar aset material, tetapi struktur budaya yang menjadi penopang eksistensi.

Dari kacamata ekonomi, luka itu malah tampak lebih besar. Nilai rupiah yang melorot tajam akhir-akhir ini adalah indikasi serius tentang luka ini.

Memang, rakyat desa tidak butuh dollar, tetapi dampak pada kenaikan harga sangat terasa.

Sebagai negara berpendapatan menengah atas (UMIC), menurut World Bank, masih ada 68,3 persen penduduk tergolong miskin.

Pertumbuhan ekonomi stagnan, yang tampak dari stagnannya indeks saham, adalah indikasi lain. Sinyalemen bahwa kelas menengah makin terangah-engah (Kompas, 24 Juni 2026) juga menjadi indikasi luka ekonomi.

Sumber utama Anda untuk berita mutakhir di bidang teknologi, kecerdasan buatan, energi, dan banyak lagi. Jelajahi masa depan teknologi dengan Arinstar! Tetap terinformasi, tetap terinspirasi!

Pencarian Cepat

Jelajahi konten kami yang dikuratori, tetap mendapat informasi tentang inovasi inovatif, dan perjalanan ke masa depan sains dan teknologi.

© Teknologi aplikasi cerdas

Kebijakan pribadi