Sains

“Kalau Tak Terobati dan Terawat Kita Dosa” Upaya Yayasan Zamrud Biru Pulihkan ODGJ

Aug 20, 2026 IDOPRESS

BEKASI, iDoPress – Suasana di Yayasan Zamrud Biru, Kelurahan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, tak terlihat seperti tempat penampungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang selama ini kerap dianggap sebagai tempat untuk mengisolasi pasien.

Di salah satu sudut, sejumlah pasien duduk bermain catur.

Pasien lainnya mengikuti kegiatan bersama, bercengkerama, hingga berinteraksi satu sama lain.

Di tempat tersebut, tidak ada pasien yang dikurung maupun dipasung.

Pendiri Yayasan Zamrud Biru, Hartono, mengatakan pendekatan tersebut menjadi prinsip yang diterapkan sejak yayasan berdiri pada 2009.

Menurut dia, ODGJ tetap memiliki hak untuk berinteraksi dan bersosialisasi seperti manusia lainnya.

"ODGJ itu sama manusia seperti kita. Apa bedanya dengan yang lain ? Kita punya kepala dia juga sama, kita punya kaki, kita punya tangan, dan isi perut dan segala macam juga sama Allah kasih," ujar Hartono kepada iDoPress, Kamis (20/8/2026).

iDoPress/NURPINI AULIA RAPIKA Sejumlah pasien ODGJ mengikuti kegiatan bernyanyi dan berjoget bersama di Yayasan Zamrud Biru, Bekasi, Senin (17/8/2026).

Hartono mengatakan, dirinya telah berkecimpung dalam penanganan ODGJ sejak 1994.

Sebelum mendirikan Yayasan Zamrud Biru, dia selama sekitar 25 tahun bekerja sebagai pendamping di yayasan yang menangani ODGJ.

Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mendirikan Yayasan Zamrud Biru.

Sejak saat itu, Hartono berupaya agar yayasan tidak hanya menjadi tempat penampungan ODGJ.

"Yang terpenting ini tidak menampung saja. Kalau hanya menampung saja kita bisa sekian ratus orang banyak, tapi kalau tidak terawat kan dosa, tidak terobati kita dosa," kata Hartono.

Hartono mengatakan, salah satu target utama Yayasan Zamrud Biru adalah membantu pasien pulih sehingga dapat kembali ke keluarga dan menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Semula, yayasan menargetkan sedikitnya enam hingga tujuh pasien dapat kembali pulang setiap bulan.

Namun, menurut Hartono, jumlah pasien yang berhasil pulih dan kembali ke keluarga kini bisa mencapai 10 hingga 15 orang setiap bulan.

Untuk mencapai kondisi tersebut, pasien tidak hanya mendapatkan pengobatan.

Yayasan juga memberikan pembinaan dan berbagai kegiatan yang mendorong pasien kembali berinteraksi dengan lingkungan.

Pasien mendapatkan makan empat kali sehari, vitamin, susu, makanan ringan, dan buah.

Selain itu, terdapat pembinaan agama serta kegiatan lainnya.

"Kami juga bekerja sama dengan Rumah Sakit Jiwa Jatisampurna serta puskesmas setempat untuk menangani kesehatan fisik dan mental pasien," ungkap Hartono.

Sumber utama Anda untuk berita mutakhir di bidang teknologi, kecerdasan buatan, energi, dan banyak lagi. Jelajahi masa depan teknologi dengan Arinstar! Tetap terinformasi, tetap terinspirasi!

Pencarian Cepat

Jelajahi konten kami yang dikuratori, tetap mendapat informasi tentang inovasi inovatif, dan perjalanan ke masa depan sains dan teknologi.

© Teknologi aplikasi cerdas

Kebijakan pribadi