
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Daftar di sini
Kirim artikel
Editor Ferril Dennys
DUKA mendalam dan bela rasa (compassio) kita tujukan kepada saudara-saudari kita di Flores yang menjadi korban gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo.
Dalam sekejap, rumah-rumah runtuh, ruang hidup porak-poranda, dan kehidupan banyak keluarga berubah selamanya.
Namun, di tengah duka, kita perlu melakukan lebih dari sekadar menangisi bencana alam: menalarnya.
Menalar bencana alam berarti memahami kerapuhan manusia dan belajar bertindak setelah guncangan berlalu.
Bagi manusia, bencana alam seperti gempa bumi bukan sekadar peristiwa geologis. Ia adalah pengalaman eksistensial.
Dalam sekejap, gempa membuat manusia sadar bahwa hidup ternyata rapuh. Rumah yang dibangun bertahun-tahun dapat roboh dalam hitungan detik.
Jalan yang setiap hari dilalui tiba-tiba terputus. Tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, bahkan ruang yang selama ini dianggap aman dapat berubah menjadi sumber ketakutan.
Peristiwa ini oleh Karl Jaspers (1970) disebut sebagai Grenzsituation (situasi batas).
Situasi batas adalah pengalaman ketika manusia berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat dihindari dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan: penderitaan, perjuangan, rasa bersalah, dan kematian.
Dalam situasi semacam itu, manusia berhadapan dengan batas-batas dirinya sendiri.
Gempa Flores menghadirkan situasi batas itu secara telanjang. Kita tidak lagi berbicara tentang statistik ketika seorang ibu mencari anaknya di antara reruntuhan dan ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya.
Pada titik itu, bencana menjadi pengalaman personal: mengapa saya masih hidup sementara orang yang saya cintai telah pergi? Mengapa rumah saya roboh? Mengapa semua ini terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu mempunyai jawaban.
Bagi Jaspers, situasi batas tidak selalu dapat diselesaikan. Ia harus dihadapi. Justru melalui pengalaman keterbatasan itu, manusia dapat melihat keberadaannya secara lebih jernih.
Kesadaran akan kefanaan dapat membuat manusia lebih otentik, yakni lebih sadar bahwa hidup bukan sesuatu yang boleh diterima sebagai kepastian tanpa rasa syukur.
Jelajahi konten kami yang dikuratori, tetap mendapat informasi tentang inovasi inovatif, dan perjalanan ke masa depan sains dan teknologi.
© Teknologi aplikasi cerdas
Kebijakan pribadi